Perlakuan Terhadap Ari-ari Bayi yang Baru Lahir

Ari-ari atau istilah ilmiahnya Plasenta itu berfungsi sebagai alat transfer makanan dan lainnya antara janin dengan ibunya. Plasenta ini tentunya sangat dibutuhkan janin sampai bayi itu lahir, namun setelah lahir plasenta ini sudah tidak ada fungsinya lagi karena asupan makanan beralih dari ari-ari ke ASI.

Pada sebagian masyarakat ada yang mempunyai keyakinan selain fiungsi medis, masih ada hubungan ghaib antara placenta dengan janin, sehingga banyak ada yang melakukan ritual-ritual tertentu yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama. yang diantaranya adalah :
Mengubur plasenta di depan rumah yang wajib diberikan penerangan lampu dan ditutup dan juga disertakan barang-barang tertentu yang dikubur bersama plasenta itu, bahkan ada yang dibungkus kain mori/ kafan dengan pengharapan bahwa hal itu akan berpengaruh terhadap nasib dan kehidupan si bayi bila kelak dewasa.

Anehnya mereka melakukan hal tersebut hanya begitu saja dan tidak pernah memikirkan korelasi/sebab akibatnya mengapa mereka melakukan seperti itu. Bahkan banyak orang yang berpendidikan tinggipun yang biasanya berlaku ilmiah menjadi lemah dan terjerat dengan ritual ini

Bagaimana dengan Pandangan Syariah Islam?

Sama sekali tidak ada nash atau dalil satupun baik berupa potongan ayat Al-Quran atau hadits nabawi, tentang masalah menanam ari-ari. Bahkan hadits yang paling dhaif atau bahkan hadits palsu sekalipun, sama sekali tidak pernah memuat masalah ini.

Ritual seperti ini murni produk lokal yang jauh dari syariat Islam. Dari sisi aqidah jelas meyakini bahwa ada hubungan ghaib antara plasenta dengan nasib seseorang jelas telah melakukan kesyirikan dan mengganggu hubungan kita sebagai muslim dengan Allah Subhanahu Wa ta’ala.

Seolah nasib seseorang ditentukan oleh plasentanya, bukan oleh tugas pendidikan dari kedua orang tuanya dan lingkungannya. Padahal tegas sekali disebutkan bahwa nasih seseorang bukan ditentukan oleh perlakuan terhadap plasenta, namun tergantung dari upaya (ikhtiar) seseorang serta doa-doa yang dipanjatkan.

Mengenai doa yang dipanjatkan, Allah sudah menetapkan teknis dan tata caranya dan bilamana kita melakukannya tanpa ada tuntunannya maka ibadah/doa itu bukan saja tertolak bahkan bisa menimbulkan bencana. Misalnya harapan kita dengan mengubur placenta agar si bayi bernasib baik bisa jadi malah sebaliknya yang didapat.

Banyak orang yang bersikeras dengan dalih untuk mempertahankan tradisi nenek moyang atau leluhurnya. Namun kita harus meneliti terlebih dulu tradisi bagaimanah yang bisa diterima dan harus dihindari sebab tidak semua tradisi itu baik. Bukankah di zaman nenek moyang dulu, juga ada tradisi minum khamar, zina, judi dan seterusnya? Bukan kah dahulu nenek moyang kita menyembah dewa dan berhala?

Apakah hari ini akan tetap kita lestarikan budaya-budaya yang negatif dari nenek moyang itu? Tentu tidak, bukan?

Tugas kita sekarang ini adalah berupaya mengikis dan mengurangi secara sistematis, tradisi yang sekiranya bertentang dengan nilai-nilai kemanusiaan serta nilai-nilai keIslaman. Namun bila tradisi itu sesuai dengan Islam, barulah kita lestarikan.

Memendam Plasenta untuk Kebersihan Lingkungan

Kalau sekedar mengubur (memendam) palsenta di dalam tanah, tanpa niat apapun kecuali untuk kebersihan dan kesehatan lingkungan, tentu boleh dan baik. Sebab plasenta itu akan segera membusuk bila tidak dipendam.

Jalan terbaik memang dipendam saja, agar tidak merusak lingkungan. Namun tanpa diiringi ritual apa pun yang bisa merusak hubungan mesra kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pendam saja dan selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: